Contoh Makalah tentang Pendidikan Karakter
Perkembangan 30 tahun
terakhir kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia
ditandai oleh banyak peristiwa yang berdampak besar dalam kehidupan dan
sekaligus mencerminkan derajad karakter masyarakat Indonesia . Bagaimana ketika tahun
1992, saat Orde baru, semua atau setidaknya sebagian besar anggota DPR/MPR
secara aklamasi menyetujui pengangkatan H.M Soeharto sebagai Presiden RI
untuk ke 4 kalinya. Saat itu sesungguhnya masyarakat telah merasakan ketidaknyaman
dalam kehidupan social politik, social budaya
dan dan social ekonomi. Semua system kehidupan diarahkan sesuai kehendak
penyelenggara kekuasaan, termasuk system dan kebijakan pendidikan. Penataran P4
dengan berbagai polanya dipakai sebagai kebijakan yang diharapkan dapat
memperkuat karakter bangsa. Melalui penataran P4 diharapkan terbentuk manusia Indonesia
yang cinta tanah air, memiliki pemahaman politik yang sama, dan sifat-sifat
kemuliaan, kesantunan dan kepedulian social yang tinggi. Tetapi apa yang
terjadi ? Pertentangan antar kelompok masyarakat makin meningkat, korupsi
merajalela, pengakuan superioritas sekolompok masyarakat tertentu terhadap kelompok masyarakat lain, kebencian
yang makin kuat terhadap etnik tertentu, kebencian yang makin kuat terhadap
system dan pelaksanaan program pemerintah
yang dinilai sangat sentralistik dan otoriter, dan masih banyak hal lain
yang kontradiksi dengan hasil yang diharapkan dari Penataran P4. Di kalangan
umat Islam yang merupakan mayoritas bangsa ini, banyak kebijakan yang justru
melemahkan dan menyudutkan mereka (baca http://islamic.xgem.com
: bencana umat islam 1980-2000) . Pelemahan aspirasi politik dan partai politik
juga sangat menguat sehingga banyak kejadian tentang pembreidelan hak pers dan
hak politik rakyat yang mengkorbankan banyak institusi pers dan perkembangan demokrasi Indonesia . Namun setelah terbukanya
era reformasi persoalan-persoalan yang muncul juga masih menunjukkan kelemahan
karena tidak kuatnya karakter yang dimiliki oleh penyelenggara Negara dan
masyarakat Indonesia .

Persoalan
karakter masyarakat (bangsa) ini bukan hanya persoalan Indonesia . Negara maju seperti
Amerika, Jepang, dan Eropa juga mengalami persoalan ini.
Dalam
kaitan dengan pemahaman watak masyarakat Indonesia yang perkembangan
terakhirnya kini dinilai menyimpang dari nilai-nilai watak yang diharapkan,
maka peran pendidikan baik formal maupun nonformal menjadi sangat penting.
Pendidikan sebagai proses humanisasi menekankan pembentukan makhluk sosial yang
mempunyai otonomi moral dan sensitivitas
/kedaulatan budaya, yaitu manusia yang
bisa mengelola konflik, menghargai kemajemukan, dan permasalahan silang budaya.
Toleransi budaya di lembaga pendidikan dapat diupayakan lewat pergaulan di
sekolah dan muatan bidang studi,
transformasi budaya harus dipandu secara pelan-pelan, bukan merupakan
revolusi yang dipaksakan (www.ialf.edu/kipbipa/papers/EndangPoerwanti.doc.)
A.
Permasalahan
Pendidikan Karakter Indonesia
:
Definisi Karakter : Banyak definisi yang
diberikan untuk istilah ini antara lain Synonyms: 1. Character, individuality, personality
refer to the sum of the characteristics possessed by a person. Character
refers esp. to moral qualities, ethical standards, principles, and the like: a man of sterling character. Individuality
refers to the distinctive qualities that make one recognizable as a person
differentiated from others: a woman of strong
individuality. Personality refers particularly to
the combination of outer and inner characteristics that determine the
impression that a person makes upon others: a child of
vivid or pleasing personality (Dictionary.com Unabridged. Based on the
Random House Dictionary, © Random House, Inc. 2009.), 2. Etymology: Middle
English caracter, from Latin character mark, distinctive quality, from Greek charaktēr, from charassein to
scratch, engrave; perhaps akin to Lithuanian žerti to
scratch. (From : http://www.merriam-webster.com/dictionary/character),
3. a : one of the attributes or features that make up and
distinguish an individual b
(1) : a feature used to separate
distinguishable things into categories; also : a group or kind so
separated <advertising of a very primitive character>
(2) :
the detectable expression of the action of a gene or group of genes (3) : the aggregate of
distinctive qualities characteristic of a breed, strain, or type <a wine of great character> c : the complex of
mental and ethical traits marking and often individualizing a person, group, or
nation <the character of the American people> d : main or essential
nature especially as strongly marked and serving to distinguish <excess
sewage gradually changed the character of the lake>
Salah
satu definisi yang disebutkan oleh Hill (2002) adalah :
“Character determines
someone’s private thoughts and someone’s actions done. Good characteris the
inward motivation to do what is right, according to the highest standard of
behaviour, in every situation”.
Pendidikan
karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu
individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, dan
bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Beberapa
permasalahan pendidikan karakter di Indonesia dapat diuraikan sebagai
berikut :
1.
Fungsi pendidikan yang diamanatkan UU
20 Th 2003 tentang Sisdiknas yaitu pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak terimplementasikan dalam kurikulum
secara integratif. Mata pelajaran dalam pelaksanaannya hanya bertanggungjawab
terhadap inti mata pelajaran itu sendiri. Misal mata pelajaran fisika kompetensi
kognitifnya lebih diutamakan sedangkan aspek lain jarang atau bahkan diabaikan.
Pelajaran lain juga serupa, kecuali pelajaran Agama, dan pelajaran Moral
Pancasila yang dianggap masih memiliki banyak muatan yang mengarah pada
pembentukan karakter siswa. Begitu pula dengan tujuan pendidikan nasional yang
bangunannya tersusun capaian tujuan institusional, kurikuler, dan atas
kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran masih belum menunjukkan hasil
yang diharapkan. Perilaku siswa di sekolah dan lulusan di masyarakat belum
secara kuat menunjukkan hasil pendidikan yang bermutu. Pendidikan nasional
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.
2.
Masih belum mantapnya budaya nasional
yang secara konseptual dapat diaplikasikan secara merata pada seluruh lapisan
masyarakat menyebabkan manusia Indonesia
kurang memiliki karakter yang kuat. Hal ini disebabkan Indonesia
merupakan negara yang terbentuk dari multikultur, multi etnik, multi agama,
multi bahasa, dan ragam kekhasan lokal lainnya. Endang Poerwanti (2004) menjelaskan
bahwa Nilai budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat, akan selalu berakar
dari kearifan tradisional yang muncul dan berkembang sejalan dengan
perkembangan masyarakat itu sendiri, kemajemukan masyarakat Indonesia dengan
ciri keragaman budayanya tidak bisa secara otomatis terintegrasi menjadi
kebudayaan Nasional, yang sama mantapnya dengan setiap sistem adat yang ada, karena kebudayaan Nasional tersebut baru pada
taraf pembentukan. Dengan berpijak pada
pemahaman tersebut, nampak bahwa
kebijakan pendidikan yang sentralistik menjadi tidak relevan. Strategi
pendidikan yang berbasis budaya, dapat menjadi pilihan karena pendidikan
berbasis adat tidak akan melepaskan diri
dari prinsip bahwa manusia adalah faktor
utama, sehingga manusia harus selalu merupakan sobyek sekaligus tujuan dalam
setiap langkah dan upaya perubahan. Nilai-nilai budaya tradisional dapat
terinternalisasi dalam proses pendidikan baik di lingkungan keluarga,
pendidikan formal maupun non formal.
Khususnya pendidikan di sekolah diperlukan adanya paradigma baru yang
dapat menyajikan model & strategi pembelajaran yang dapat menseimbangkan
proses homonisasi dan humanisasi. Pelaksanaan Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
tampaknya cukup mengakomodasi keinginan di atas. Namun dalam pelaksanaannya juga
masih belum mencapai sasaran yang diharapkan.
3.
Program pendidikan, termasuk penataran
P4 yang harapannya dapat memperkuat karakter manusia Indonesia tidak mencapai
sasarannya. Bahkan ada yang mengatakan “makin tinggi pola penataran P4 yang
diikuti seseorang makin lemah karakter nasionalismenya”. Termasuk pula pendidikan
Pramuka yang pada awalnya lebih menunjukkan hasil pembentukan karakter yang
kuat pada anggotanya, kini pendidikan Pramuka hanya sebagai kegiatan
ekstrakurikuler yang bersifat pilihan.
4.
Beberapa permasalahan terkait
rendahnya karakter siswa (mahasiswa) dikemukan antara lain oleh Wanda Crisiana
(2007) yang menemukan tiga dari enam karakter yang lemah pada mahasiswa Teknik
Industri UK Petra Surabaya yaitu caring,
respect, dan citizenship.
Enam
jenis karakter berdasar The Six Pillars of Character yang dikeluarkan
oleh Character Counts Coalition ( a project of The Joseph Institute
of Ethics) adalah sebagai berikut:
a.
Trustworthiness, bentuk
karakter yang membuat seseorang menjadi: berintegritas, jujur, dan loyal
b.
Fairness, bentuk
karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka serta tidak suka
memanfaatkan orang lain.
c.
Caring, bentuk
karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap
orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar.
d.
Respect, bentuk
karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain.
e.
Citizenship, bentuk
karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan serta peduli terhadap
lingkungan alam.
f.
Responsibility, bentuk
karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin, dan selalu
melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin.
Six pillars of characters ini dicetuskan oleh
sekelompok guru, ahli etika, dan pelajar yang mengadakan pertemuan di Aspen . Gagasan six pillars
ini diinspirasi dari buku Thomas
Lickona, Education for Character. 1991. Keenam karakter pokok ini dapat dipakai
sebagai instrument pengukuran karakter siswa.
B.
Pendidikan
Karakter melalui pembelajaran Sains
Bambang Nurokhim (2007) menegaskan membangun karakter
dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa
ditunda, mulai dari lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat dengan
meneladani para tokoh yang memang patut untuk dicontoh. Di lingkungan sekolah,
guru, kepala sekolah dan tenaga pendukung kependidikan merupakan komunitas yang
secara tidak langsung akan menjadi teladan bagi para siswa. Untuk itu karakter
yang kuat harusnya lebih dahulu dimiliki oleh komunitas tersebut, terutama
guru.
Pembelajaran sains dengan pendekatan ketrampilan proses, inquiri dan
problem solving dalam beberapa hal dapat menanamkan sikap-sikap positip yang
mengarah pada pembentukan karakter diri yang kuat. Pembelajaran sains yang
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan memberikan sumbangan berharga bagi
siswa dalam mempersiapkan dirinya menghadapi kehidupan nyata di masyarakat. Unsur-unsur
kedisiplinan, kecermatan, ketekunan, ketelitian, dan kejujuran misalnya dalam
melakukan kegiatan observasi dan pengukuran secara bertahap akan membentuk
karakter siswa.
Nilai-nilai yang dapat diperoleh dari hasil
pembelajaran sains adalah :
1. Obyektivitas
(objectivity)
2. Keakuratan (accuracy)
3. Ketepatan (precision)
4. Pencarian
kebenaran (pursuit of truth)
5. Pemecahan
Masalah (problem solving)
6. Penghargaan
makna kemanusiaan (regard for human
significance)
7. Melindungi Kehdiupan manusia (protect
human life: safety and risks)
8.
Kejujuran
intelektual (intellectual honesty)
|
9.
Kejujuran akademik (academic honesty)
10. Keteguhan
hati (courage)
11. Kerendahan
hati (humility)
12. Membuat
keputusan (decision-making)
13. Kesediaan menghargai pendapat (willingness
to suspend judgment)
14. Saintifik
inquiri (scientific inquiry: being fair
and just)
15. Mempertanyakan
semua hal (questioning of all things)
16. Kebutuhan
verifikasi (demand for verification)
|
17. Menghormati
logika (Respek respect for logic)
18. Integritas (integrity)
19. Rajin (diligence)
20. Tekun (persistence)
21. Rasa
ingin tahu (curiosity)
22. Terbuka (open-mindedness)
23. Kritis (critical evaluation of
alternatives)
24. imagination
|
Penanaman nilai-nilai sains dapat dilaksanakan manakala guru dapat menyusun perencanaan pembelajaran dengan baik, yaitu dengan penetapan tujuan beranah kognitif, afektif dan psikomotor, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran secara utuh. Ini adalah hal paling sulit dilaksanakan karena berbagai alasan seperti terbatasnya waktu, beban tanggung jawab guru yang cukup banyak (beban mengajar 24 jam pelajaran per minggu), belum ada (mantapnya) team teaching yang dapat membagi tugas sehingga secara intens dapat mengikuti perkembangan siswa, belum pahamnya guru memnyusun kegiatan belajar yang bermuatan sikap-sikap ilmiah, belum pahamnya guru tentang pengukuran hasil belajar sains yang berbentuk sikap, dan sebagainya.
Pendidikan sains memiliki peran penting dalam
menjaga dan meningkatkan kualitas hidup manusia.
Science
is critical to sustaining, maintaining and improving the quality of life on
earth for the future and for enhancing democratic societies and the global
economy.
The goal of science
education is not only to produce scientists, but also to prepare well rounded,
clear thinking, scientifically literate citizens. Helping young people acquire
the knowledge, skills and values they will need as productive adults in an
increasingly technological society is the major purpose for science
instruction.
Methods
of teaching Character Education in Science:
Ketiga hal tersebut
dapat terlaksana dalam pembelajaran sains melalui tiga tahapan. Pertama rancangan
pembelajaran, yaitu pada bagian tujuan pembelajaran yang secara tegas harus
menunjukkan jenis sikap apa yang akan dibelajarkan pada siswa, kemudian
bagaimana kondisi dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk
mencapai tujuan tersebut, dan teknik (jenis) penilaian apa yang sesuai untuk
mengevaluasi tujuan tersebut. Kedua, dalam pelaksanaan pembelajaran secara
intensif guru mengamati perilaku (sikap) siswa selama proses belajar, dan
memberikan umpan balik bagaimana seharusnya siswa bersikap dalam menghadapi
masalah yang disodorkan dalam pembelajaran. Ketiga, guru melakukan penilaian
terhadap sikap-sikap yang ditunjukkan siswa atau dapat juga dari penilaian
siswa sendiri dan teman. Hasil penilaian ini seyogyanya didiskusikan untuk
umpan balik bagi siswa.
Metode pembelajaran
yang sesuai untuk pembentukan sikap dalam pembelajaran sains, selain
ketrampilan proses, inquiri, dan problem solving, secara konstruktivistik juga
dapat dilaksanakan melalui metode lain misal roll playing.
C.
Penutup
Tidak dipungkiri bahwa pembentukan sikap (karakter) siswa dalam
pembelajaran banyak sekali memerlukan peran guru sains. Ini masalah lama, yaitu
guru sains hanya mengajarkan pengetahuan (transformasi pengetahuan) dan kurang
memperkuat aspek-aspek sikap dan ketrampilan. Dengan menguatnya fenomena
menurunnya sikap mental siswa dan lulusan yang ada dalam kehidupan nyata di
masyarakat maka penegasan untuk memperkuat kembali pembelajaran yang bermuatan
sikap menjadi hal yang penting dilakukan.
Daftar Pustaka
Bambang Nurokhim (2007). Membangun
Karakter dan Watak Bangsa Melalui Pendidikan Mutlak Diperlukan. http://www.tnial.mil.id/Majalah/Cakrawala/ArtikelCakrawala/tabid/125/articleType/ArticleView/articleId/200/Default.aspx
Endang
Poerwanti . Pemahaman
Psikologi Masyarakat Indonesia
Sebagai Upaya Menjembatani Permasalahan
Silang Budaya). Lembaga Kebudayaan
Universitas Muhamadiyah Malang . www.ialf.edu/kipbipa/papers/EndangPoerwanti.doc
.
Hill,
T.A., 2005. Character First! Kimray Inc., http://www.charactercities.org/downloads/publications/Whatischaracter.pdf.
Li, L., 2005. Education for 1.3 Billion. Pearson Education
Undang Undang No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Wanda Crisiana (2005). Upaya
penerapan Pendidikan Karakter bagi mahasiswa (Studi Kasus di Jurusan Teknik
Industri Uk Petra ). Jurnal Teknik Industri Vol. 7 No. 1, Juni
2005, 83-90